Sabtu, 19 November 2022

Berat Badan 32 Kg, Semua Karena Tuberculosis (TBC)

 

       
         Indonesia di kategorikan sebagai Negara teratas no 3 perihal kasus TBC (tuberkulosis) di dunia. Bisa di bayangkan saja bagaimana bahayanya penyakit ini hingga bisa mengakibatkan lebih dari 25 %  warga Indonesia yang terdampak TBC tersebut. Apalagi sampai saat ini virus Corona masih belum dikatakan hilang dari muka bumi dan jika seseorang yang telah memiliki riwayat penyakit TBC lebih  gampang terkena Virus Corona.

        Sama halnya dengan Virus Corona, penyebaran TBC tidak melalui udara. Akan tetapi bisa melalui air liur ketika kita berbicara dengan penderita TBC. Untuk menghindari hal tersebut, usahakan penderita TBC tetap selalu menggunakan masker di dalam ataupun di luar ruangan. Serta untuk keluarga, rekan atau anggota lainnya jika memang bertemu dengan si penderita TBC jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan 3M.

        TBC memang penyakit yang bisa dibilang mematikan namun tidak banyak juga ada dari beberapa penderita yang bisa sembuh dengan metode penyembuhan yang sudah diberikan oleh dokter. Contohnya saja saya selaku penulis artikel. Alasan saya membuat artikel ini sebagai penyemangat kepada kalian yang saat ini sedang menderita penyakit TBC. Jangan pernah menyerah dengan hidup selagi Tuhan masih memberikan nafas untuk kita yakinlah masih ada hari esok lusa dan hari-hari selanjutnya.



        Empat tahun yang lalu ketika saya masih berumur 25 tahun setelah melahirkan anak ke dua yang baru berusia 6 bulan. Saat itu ibu saya sakit dan saya harus merawat beliau karena kebetulan ayah saya bekerja di Taiwan dan saya adalah anak perempuan pertama. Mendengar kabar beliau yang hanya bisa berbaring mengharuskan saya untuk sementara meninggalkan anak pertama dan suami saya karena jaraknya yang jauh.
Saat berada di rumah beliau kondisinya memang sangat dan sangat memprihatinkan. Wajah beliau yang masih berusia 42 tahun terlihat sangat lusuh begitu juga berat badannya yang menurun drastis. Tanpa pikir panjang saya membawa beliau ke rumah sakit dan mengajukan rawat inap. Dari dokter di diagnosa bahwa gula darah (diabetes) beliau sangat tinggi. Setiap hari saya menyuntikan insulin kepada beliau untuk mengendalikan gula darah. Serta trombosit beliau juga sangat menurun hingga mengharuskan untuk saya beserta kakak saya mencari golongan darah yang sama di rumah sakit besar di tengah kota Tanjung Pinang.

      Sekitar satu minggu beliau berada di rumah sakit dan akhirnya diperbo;ehkan untuk pulang. Saya masih tetap merawat beliau karena memang beliau masih belum pulih. Satu dua hari semua tampak biasa-biasa saja. Namun setelah memasuki minggu ketiga mulai ada perasaan yang lain di diri saya. Saat malam hari saya merasa sangat kedinginan seperti berada di dalam mesin pendingin. Badan saya menggigil walaupun sudah berlapiskan bedcover tebal sebanyak 2 lapis. Setelah merasa kedinginan kadang saya merasa sangat kepanasan. Seperti berada di atas bara api. Kejadian seperti ini saya rasakan berulang-ulang setiap harinya.
Tidak hanya itu, setiap pagi ketika saya akan melakukan aktifitas badan saya terasa sangat lelah. Kaki saya tidak bisa berdiri lebih dari 3 menit. Begitu lelah dengan nafas yang terengah-engah seakan habis lari maraton 100 meter.
Itulah yang saya rasakan setiap hari tanpa ada pengobatan apapun karena saya pikir hanya kecapekan saja mengurus ibu saya sendirian tanpa bantuan siapapun. Karena kondisi tidak stabil saya memutuskan untuk menyape (melepas asi dan mengganti dengan susu formula) anak saya yang masih 7 bulan.

        Tiga bulan setelah itu, saya terpaksa harus kembali ke Surabaya karena anak pertama saya sakit dan ingin bertemu dengan saya. Dengan berat hati saya meninggalkan ibu saya. Yang membuat saya mantap untuk kembali yaitu ayah saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan merawat ibu 3 hari setelah saya berangkat. Mungkin karena sudah dua kali masuk rumah sakit tetapi ibu belum juga sembuh, itu yang membuat ayah saya akhirnya kembali ke Indonesia.

       Setiba di Surabaya semua keluarga terkejut dengan perubahan tubuh saya. Badan saya yang semakin kurus, pipi saya semakin kisut seperti nenek tua yang tanpa gigi. Karena melihat perubahan yang drastis akhirnya saya memutuskan untuk periksa ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Dari rumah sakit ini di diagnosa bahwa paru-paru saya bermasalah tetapi saya tidak di anjurkan rawat inap dan hanya diberi obat saja. Sebelum dari rumah sakit ini saya sudah berobat ke dokter-dokter praktek rumahan hingga lebih dari 4 dokter dan belum juga sembuh. Akhirnya memutuskan ke Rumah Sakit agar diberi pelayanan yang lebih bagus tetapi cuma diberi resep obat yang ditebus di apotik.
Obat  habis dan saya kembali ke Rumah Sakit tersebut karena semakin hari saya semakin memburuk. Timbul benjolan-benjolan di leher bagian kanan dan kiri, ketiak bagian kanan dan kiri, serta benjolan di selangkangan kanan dan kiri. Untuk benjolan di ketiak dan selangkangan masih sebesar biji mente. Namun pada leher sudah  sebesar bola pingpong.

         Ketika saya memperlihatkan benjolan pada leher salah satu dokter mengatakan bahwa benjolan tersebut harus dioperasi. Namun dokter yang lain menganjurkan saya untuk rontgent, USG 4D dan cek darah (kebetulan saat itu berada di IGD yang mana banyak sekali dokter-dokter muda). Antara merasa sakit jenuh dan juga bosan saya berkata pada dokter untuk tidak mau operasi dahulu namun memfokuskan untuk sembuh dari sakit yang belum saya ketahui.
Beberapa jam kemudian hasil rontgent dan lab sudah keluar akan tetapi saya harus datang lagi esok hari guna pemeriksaan lebih lanjut.
Bisa kalian bayangkan dengan pemeriksaan yang sebanyak  itu dokter masih belum bisa mendiagnosis penyakit saya. Pulang dengan rasa marah, kecewa, sakit putus asa semua bercampur. Belum lagi biaya rumah sakit yang sangat mahal karena saya menggunakan fasilitas umum tanpa BPJS.

        Sepulang dari rumah sakit saya merasa semakin sakit dan semakin kurus.Timbangan saya sudah mencapai 32 KG. Perut saya seakan melilit, leher saya sangat panas karena benjolan-benjolan. Saya menyerah dan tidak mau kembali ke rumah sakit yang notabene menurut saya hanya bertele-tele saja tanpa diagnosa yang jelas.
Keluarga dari suami tidak putus asa mereka melakukan pengobatan herbal bahkan sampai pergi menemui ustad atau kiyai ataupun orang pintar. Saya semakin kacau, setiap malam hanya menangis sambil memeluk anak-anak saya seakan hari esok akan tiada.

        Hampir tiga bulan terus begitu dan akhirnya mbah (nenek dari suami) yang berada di Pamekasan Madura meminta saya untuk pergi ke kampungnya dan ingin merawat saya. Berangkat ditemani suami tercinta menggunakan bis dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sampai disana malam hari dan sudah di rencanakan oleh mbah untuk ke Rumah Sakit Pamekasan esok harinya.
Sebenarnya sudah muak dengan yang namanya rumah sakit karena kejadian-kejadian tempo hari namun karena permintaan dari Mbah akhirnya  pagi harinya kami berangkat ke Rumah Sakit tersebut.
Kami memasuki ruangan bagian Poli Paru. Dokter  (diatas 45 tahun) menyarankan untuk membuka kerudung untuk memeriksa keadaan saya lebih detail. Baru saja Dokter melihat benjolan yang ada pada leher saya beliau langsung berkata 

" Kamu terkena TBC kelenjar getah bening . "

Kemudian beliau menjelaskan secara rinci apa itu TBC, cara penularannya dan sebagainya. Beliau menyuruh saya untuk tes di laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut serta rujukan kepada Puskesmas setempat untuk pengambilan obat secara berkala. Obat yang diberikan berwarna merah besar-besar. Cara minumnya 2 sekaligus perhari dan harus di jam yang sama setiap hari tanpa melewati satu haripun. Kenapa ? Karena jika terlewat satu hari saja maka dianggap pengobatan tersebut telah gagal dan harus memulai dari awal dengan pemeriksaan terlebih dahulu. Banyak sekali drama-drama dalam pengobatan selama sembilan bulan tersebut. Tetapi tekat kuat saya untuk sembuh tetap memberikan saya semangat dalam pengobatan sembilan bulan.

       Kalian tau apa yang saya rasakan ? Semangat hidup saya tumbuh kembali dan terus bergejolak dalam diri saya. Saya merasa di beri kesempatan ke dua oleh Tuhan Yang Maha Esa. Anak-anak saya tidak akan kehilangan sosok ibu mereka. Terimakasih Tuhan.

        Pada artikel ini buka semata untuk menjudge atau menjelekkan siapapun atau apapun. Mungkin Tuhan punya rencana cara lain untuk saya hingga  harus berobat ke pulau seberang baru bisa mendapatkan titik terang. 
Buat kalian penderita TBC jangan mudah putus asa, tetap terus berjuang untuk hidup karena masih banyak orang tua, saudara, teman dan lainnya yang merindukan masa-masa indah bersama kalian.< mien>




Selasa, 15 November 2022

Musim Penghujan, Flu Pun Melanda




         Indonesia telah memasuki musim penghujan mulai dari akhir Bulan 0ktober hingga puncaknya di Bulan Januari mendatang. Di kutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwasannya sifat hujan selama Musim Hujan 2022/2023 di sebagian besar daerah yakni

sebanyak 477 ZOM diprakirakan Normal, sedangkan wilayah lainnya Atas Normal sebanyak 188 ZOM dan diprakirakan Bawah Normal sebanyak 34
ZOM.

Puncak Musim Hujan 2022/2023 di sebagian besar wilayah ZOM
diprakirakan terjadi pada bulan Desember 2022 dan Januari 2023 sebanyak
295 ZOM.



Umumnya saat terjadi musim hujan di Indonesia banyak penyakit yang mulai terdampak salah satunya influenza atau biasa disebut flu.Hal ini karena suhu udara menjadi lebih dingin dan memudahkan virus untuk berkembang biak dan berpindah tempat, sementara sistem kekebalan tubuh manusia bekerja lebih lemah pada suhu yang dingin

Meskipun penyakit ini cenderung tidak berbahaya, namun bisa mengakibatkan hal yang fatal bagi para lanjut usia ( Lansia) atau orang dengan riwayat penyakit penyerta (Komorbid). Lantas apa yang harus dilakukan apabila seseorang terinfeksi flu ? Hal-hdal yang harus dilakukan bagi penderita flu yaitu sebagai berikut

1. Perbanyak Istirahat

Imun tubuh ketika dalam keadaan sehat berbeda dengan saat dalam keadaan sakit. Saat sakit badan akan terasa sangat lemah dan memerlukan banyak istirahat untuk memulihkan imun tubuh tersebut. Tetaplah berbaring tanpa melakukan hal-hal yang berat. Tidur atau berbaring akan merilekskan tubuh kita yang kesehariannya sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Dengan beristirahat akan mempercepat proses pemulihan.

2. Banyak Minum Air Putih

Tak hanya menghilangkan dahaga, manfaat air putih untuk kesehatan sangatlah penting. Oleh karena itu, penting untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih secara rutin. Minum air putih mencegah tubuh dari kekurangan cairan atau dehidrasi. Tubuh membutuhkan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Sumber energi tidak hanya diperoleh dari makanan. Konsumsi air putih yang cukup juga dapat membuat tubuh tidak mudah lemas selama bergerak dan beraktifitas.



3. Minum obat

Flu mengakibatkan hidung tersumbat hingga susah bernafas. Disertai meriang dan sakit kepala ringan. Jangan biarkan flu berlama-lama mengganggu aktivitasmu sehari-hari. Selain istirahat cukup dan mengonsumsi vitamin, serta makan dengan nutrisi yang tepat. Obat flu bisa menjadi solusi jitu. Untuk obat flu ringan bisa di beli di apotik-apotik terdekat. Namun jika flu yang di rasa di sertai gejala lain yang lebih serius bisa segera di bawa ke dokter atau rumah sakit terde..

4. Kompres Dengan Air Hangat

Kompres air hangat pada bagian dahi untuk mengurangi demam serta. Jika memungkinkan bisa juga mandi air hangat. Hindari menggunakan air dingin atau air es. Air hangat juga dapat membuat tubuh kita menjadi lebih nyaman.

5. Cegah Penyebaran Flu

Flu merupakan penyakit yang gampang sekali tertular kepada orang disekitar kita. Maka dari itu jika sedang terkena flu hindari kontak langsung dengan orang lain dan jangan lupa untuk memakai masker. Jika bersin jangan mengarahkan bersin kita pada orang lain. Sebaiknya menghindar atau di tutup menggunakan masker. Jangan lupa untuk tetap selalu cuci tangan agar kuman mati dan virus tidak menyebar pada orang lain.


Rabu, 09 November 2022

WASPADA TBC

       Di Indonesia umumnya penyakit TBC (tuberkolosis) mencapai lebih dari 150 ribu kasus pertahun. Yang mana penderita TBC tidak hanya orang tua saja akan tetapi dewasa, remaja bahkan anak-anak. Penyakit TBC sendiri merupakan penyakit bakteri menular (Mycobacterium tuberculosis) berpotensi serius di bagian dalam tubuh yaitu paru-paru. Selain paru-paru TBC juga dapat menyerang anggota tubuh yang lain, sepeti ginjal, tulang belakang, dan otak.

             Sudah banyak kasus TBC  di Indonesia yang menyebabkan kematian. Bahkan Indonesia termasuk urutan tertinggi di dunia tepatnya di angka ke 3 dalam kasus TBC tersebut. Dalam hal ini di butuhkan tingkat kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar kita karena bakteri penyebab TB menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Apabila sudah ada anggota keluarga yang terkena TB maka diperlukan perhatian ekstra supaya anggota keluarga yang lain tidak tertular. Untuk peralatan makan seperti piring gelas ataupun sendok upayakan tidak bercampur dengan penderita TB guna mencegah timbulnya penularan dan tetap memakai masker walaupun berada dalam ruangan.

             Setiap orang yang terinfeksi TB memiliki gejala yang berbeda-beda. Bahkan ada juga sebagian orang yang tidak memiliki gejala sama sekali. Awal mula penderita ada yang mengalami batuk terus-menerus berlangsung hingga 2-3 minggu. Batuk tersebut disertai nyeri dada dan bisa juga sampai mengeluarkan bercak darah. Si penderita merasa menggigil dan berkeringat di malam hari dan kadang merasa demam yang sangat tinggi. Akan sangat mudah kelelahan bahkan untuk berdiri saja tidak bisa lebih dari 7 menit. Napas  pendek serta penurunan berat badan yang sangat drastis sekali karena hilangnya nafsu makan. Jika ada diantara kalian yang memiliki gejala tersebut segera lakukan pemeriksaan ke Puskesmas terdekat. Pihak rumah sakit akan melakukan tes dahak dan juga rontgen untuk melihat hasilnya dan jika di nyatakan positif TBC maka harus melakuan pengobatan.

 
            Beruntungnya TBC ini masih bisa di sembuhkan dengan pengobatan jangka panjang yang melibatkan beberapa antobiotik. Selama proses penyembuhan  yang akan berlangsung selama 6-9 bulan di upayakan untuk tetap mengkonsumsi obat tanpa adanya jeda ( rutin setiap hari di jam yang sama). Karena jika penderita TB tidak mengkonsumsi obat 1 hari saja maka pengobatan akan dianggap gagal dan harus dimulai dari awal lagi. Selama proses penyembuhan ada rasa jenuh dan juga frustasi. Diperlukan dukungan keluarga agar proses penyembuhan dapat berjalan lancar dan pasien bisa sembuh kembali. Jangan sampai pasien merasa ditolak dan diasingkan oleh keluarga namun teruslah berikan dorongan dan semangat.

Sabtu, 05 November 2022

SEIN KE KIRI BELOK KE KANAN

         Fungsi dari lampu sein itu cuma satu yaitu sebagai indikator pada kendaraan ketika berbelok agar mengurangi resiko kecelakaan.

         Saat akan berbelok ke arah kanan umumnya lampu sein sebelah kanan yang akan dihidupkan. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi kenapa kebanyakan mama-mama kita justru sebaliknya ?

        Saat hendak berbelok ke kanan mama akan menyalakan sein lampu kiri untuk memberi isyarat pada pengendara di belakang. Mungkin maksud dari si mama tersebut begini

"silahkan loe lewat kiri gue mau belok kanan"



Cuma sekedar saran, kalau kalian ketemu mama-mama yang begini di jalan, udah mending pulang deh. Jangan tambah di ajak ribut karena tidak akan ada habisnya. Biarlah mama-mama berpendapat sesuai pemikirannya selama tidak terjadi kecelakaan.  
Karena masih belum ada yang bisa menakhlukkan ras mama-mama hingga saat ini. Sekian.

SEMUA KARENA MAGER

 

Dari gambar di samping apa yang terlintas di benak kalian ?

Bukan ! 

Ini bukanlah barang diskonan yang lagi di obral di Pasar Tanah Abang. Ini adalah imbasnya dari MAGER nya mama-mama karena asyik scroll tiktok nontonin Emak Hajat. Upss...

Taukah kalian saat seorang ibu rumah tangga usai melakukan proses Nginem ( cuci-mencuci) akan ada suatu rasa yang melegakan. Perasaan yang hanya ibu-ibu yang tahu karena itu murni dari hati mereka yang paling dalam.

"Horee... cucian aku sudah kelar"

Meski cuciannya sudah menggunung hasrat untuk segera mengakhiri proses umbah-umbah sangatlah menggebu-gebu. Seperti cintanya Dilan kepada Milea di tahun 1992 ( kog malah tembus kesini ? )

Tetapi, satu hal yang sangat pasti 9 dari 10 ibu-ibu akan akan merasa sangat lazy sekali untuk menyetrika ataupun melipat baju. Bahkan mungkin ada yang membiarkan cuciannya yang sudah kering hingga berhari-hari di jemuran (jemuran dalam rumah ya )

cucian yang sudah kering seharusnya di angkat dan di simpan dalam lemari ya mama. Biar tetap steril dan nyaman di pakai.

Untuk kalian mama-mama tipe yang seperti apa ya ? Karena saya menulis Artikel seperti ini mama-mama sudah tau kan tipe saya yang seperti apa ?

Kamis, 03 November 2022

Sudahkah Kita Berterimakasih ?

wanita tak bersayap
" Maa... Uang jajan aku kok cuma segini ?"

Tanpa kita ketahui bagaimana perjuangannya mendapatkan upah tanpa menghargai jerih payahnya.

" Kenapa sih ? Mau begini gak di bolehin ! Mau begitu juga gak boleh !Ahh... kesal ! "

Karena orang tua telah menjalani pahit dan manis dihidupnya.
Mereka tidak akan biarkan anaknya terjerumus dalam hal yang sama seperti mereka yang dahulu.
Hanya saja, terkadang kita sebagai anaknya merasa paling di tindas.
Merasa paling benar sendiri.

Sudah mulai timbul di pikiran untuk cepat lulus sekolah dan segera pindah.
Entah itu merantau ke kota besar atau rencana kos bersama teman-teman.

Namun seorang ibu tetaplah ibu.
Sejauh apapun anaknya pergi beliau tetap menanti kepulangan anaknya.
Meski kabar memberatkan hatinya untuk percaya.


Berat Badan 32 Kg, Semua Karena Tuberculosis (TBC)

                   Indonesia di kategorikan sebagai Negara teratas no 3 perihal kasus TBC (tuberkulosis) di dunia. Bisa di bayangkan saja ba...